Desa Wisata di Bali Dorong Lebih Berkualitas dan Melek Digital
Marsellus Nabunome Pampur• Selasa, 7 Oktober 2025 | 01:05 WIB
Salah satu desa wisata di kabupaten Tabanan, Bali, saat dikunjungi wisatawan mancanegara belum lama ini.
Radarbadung.jawapos.com- Bank Indonesia Provinsi Bali mendorong penguatan dan pengembangan akses pada sektor pariwisata di Bali.
Dorongan ini diberikan kepada enam desa wisata serta tiga Daerah Tujuan Wisata DTW di Provinsi Bali.
Langkah ini diambil agar dapat mengetahui lebih mendalam mengenai potensi pengembangan pariwisata Bali khususnya desa wisata.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengatakan sektor pariwisata di Bali memiliki tren peningkatan yang baik setiap tahunnya.
Misyalnya, pada periode bulan Januari hingga bulan Juni 2025 kunjungan wisatawan mancanegara secara nasional mencapai 7,05 juta atau naik 9,44 persen dari tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Sebagai lokomotif penggerak pariwisata di Indonesia, Provinsi Bali menunjukan diversifikasi pasar yang kuat.
Dimana data mencatat hingga triwulan II 2025, kunjungan pariwisata yang terdiri dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara di Bali mencapai 3,11 juta orang.
”Untuk menuju pariwisata yang berkualitas, desa wisata dan DTW perlu memerhatikan beberapa dukungan. Pertama, dukungan infrastruktur dan fasilitas, Kedua, digitalisasi desa wisata dan DTW serta strategi pengelolaannya, dan yang ketiga adalah edukasi dan konservasi secara berkelanjutan," kata Erwin di sela kegiatan Capacity Building Desa Wisata dan Daya Tarik Wisata (DTW) bertema "Pengembangan Pariwisata dan Digitalisasi serta Penguatan Akses Pasar Sektor Pariwisata" pekan lalu di Denpasar.
Lanjut dia, bahwa pihaknya optimis jika dilaksanakan secara integratif, terukur, dan berorientasi hasil, maka transformasi pariwisata Bali akan inklusif dan berkualitas.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Tjokro Oka Artha Ardana Sukawati atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan Cok Ace selaku Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali menjelaskan, dalam pengembangan desa wisata maupun daya tarik wisata dibutuhkan guiding principle dalam pengelolaannya yang berbasis ekonomi, sosial dan budaya.
Dimana spirit dari desa wisata berbeda dengan hotel karena berorientasi pada human spirit.
”Dimana, pengelolaan desa wisata harus berbasis komunitas, artinya warga desa terlibat langsung sebagai salah satu subjek wisata," ujarnya.
Menurut dia, penting pula adanya mindset digital first dan disertai willingness menjadi pondasi utama dalam pengembangan desa wisata maupun daya tarik wisata dalam era digital untuk menghadapi tantangan di pariwsata modern.
Kendati demikian, pengelola harus dapat menemukan jati diri dari desa wisata dengan melihat kearifan lokal yang dimiliki destinasi wisata tersebut.***
Para peserta Pelatihan Bakery tampak antusias saat praktik membuat aneka kue di aquatic samapta, Senin (6/10/2025) Editor : Donny Tabelak