Beladjar Kentjing, Dobrak Anggapan Seniman Pameran di Studio
Marsellus Nabunome Pampur• Selasa, 23 Desember 2025 | 22:56 WIB
Sejumlah karya milik perupa Lie Ping Ping yang dipajang di Warung BK.
Radarbadung.jawapos.com- Perupa Lie Ping Ping kembali menunjukan produktifitasnya dengan menggelar pameran terbarunya.
Jika pada Agustus 2025 lalu, ia menggelar pameran tunggal bertajuk Mutualisme, kali ini ia memilih judul pameran Beladjar Kentjing. Pameran tersebut digelar di Warung BK yang terletak di Jalan Kenyeri, Denpasar.
Meski terkesan agak neyeleneh, pemilihan judul pameran ini menurut Ping Ping ternyata memiliki makna yang sangat dalam.
”Judul ini terinspirasi dari kalimat sindiran yang sering diucapkan di masyarakat 'kamu tau apa? Kencing saja belum lurus, sudah banyak tingkah. Orang yang kencingnya belum lurus biasanya menunjuk orang yang tidak tahu apa-apa, masih anak-anak. Sebuah sindiran kepada orang yang secara umur biologois telah dewasa tetapi mentalnya masih kanak-kanak," jelas Ping Ping di Denpasar, Senin (22/12).
Lanjut dia, judul ini juga dimaksudkan untuk memantik respon berbeda para audiens atau penikmat karyanya.
Pemuda bernama asli Adhe Kurniawan ini menyadari betul bahwa judul pameran itu memiliki diksi yang cukup jorok.
Apalagi lokasi pamerannya sendiri digelar di sebuah tempat makan. Namun tujuannya untuk menimbulkan perspektif yang beragam dari para penikmat seni malah terwujud.
”Ada yang menilai makna judul ini adalah sindiran pedas bahwa jika kencing saja mesti belajar, brarti orag itu sangat bodoh. Ada juga yang menyebut jika judul ini dirasa merujuk ke makna yang lebih dalam yaitu sekalipun buang air kecil bersifat alamiah tapi itu perlu dikendalikan agar tidak belepotan atau mengotori lingkungan, jadi judul ini dianggap ajang introspeksi ke dalam diri," ungkap pemuda kelahiran 1989 ini.
Pada pameran itu, alumni ISI Denpasar ini memamerkan 13 karya dengan beragam ukuran, mulai dari 40cm x 30cm sampai yang paling besar 1m x 1m.
Ping Ping menyebut bahwa pameran ini berarti sangat dalam bagi perjalanannya sebagai seorang seniman.
Menurut dia, lokasi pameran yang digelar di tempat makan merupakan bentuk perlawanan atau sindiran.
”Bagi saya, ini perlawanan. Bagi saya ini sindiran, seni itu ya seni. Tapi faktanya di lapangan seniman banyak dijerat oleh potongan komisi galeri yang semakin mencekik. Nah, saya mencoba membuka ruang-ruang kemungkinan bahwa pameran itu bisa kok dimana saja, tidak harus di tempat yang dindingnya putih bersih. Karena bagi saya karya seni membawa nilainya sendiri. Seperti emas yang dilemparkan ke kotoran, tetap saja sejatinya emas itu adalah emas," tandasnya.***