Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Tradisi Siat Api di Desa Adat Duda, Digelar Setahun Sekali, Dipercaya Bisa Netralisir Hal Negatif

Zulfika Rahman • Senin, 16 Februari 2026 | 06:25 WIB
Tradisi siat api Desa Adat Duda yang berlangsung Minggu (15/2) kemarin.
Tradisi siat api Desa Adat Duda yang berlangsung Minggu (15/2) kemarin.

Radarbadung.jawapos.com- Siat api atau perang api, tradisi yang digelar krama Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali. 

Tradisi selalu memantik warga atau krama untuk terlibat. Karena dipercaya bisa menetralisir kekuatan negatif.

Sejak pukul 16.00 Minggu (15/2) sore, ribuan krama Desa Adat Duda memadati jalanan.

Tepatnya sepanjang jalan di Jembatan Tukad Sangsang.

Jembatan ini merupakan perbatasan dua desa. Yakni Desa Duda Timur dengan Desa Duda.

Dalam kondisi mendung, tak menyurutkan suka cita krama di sana untuk terlibat langsung tradisi sakral yang sudah berlangsung saban tahun. 

Di atas jembatan itulah menjadi lokasi tradisi perang api atau siat api antar krama desa adat Duda melakukan tradisi tahunannya.

Tradisi ini sendiri digelar menjelang dilaksanakannya upacara Usaba Dalem pada saat sasih Kesanga kalender Bali. 

Bendesa Adat Duda, I Komang Sujana mengatakan, tradisi ini rutin digelar setiap tahunnya.

Bahkan berlangsung cukup lama dan turun temurun.

Namun sempat terhenti akibat letusan Gunung Agung pada tahun 1963 silam.

"Sejak gunung agung meletus tidak dilakukan lagi. Sampai pada tahun 2017 lalu dilaksanakan lagi untuk pertama kalinya," kata Sujana ditemui di sela-sela berlangsungnya tradisi tersebut.

Dalam tradisi siat api, peserta dibagi dalam dua kelompok. Kedua kelompok membawa senjata prakpak. Terbuat dari kumpulan janur kelapa kering yang diikat.

”Prakpaknya ini dibakar pada bagian ujungnya,” jelas I Komang Sujana. 

Selanjutnya, dua kelompok tersebut menunggu aba-aba sebagai tanda dimulainya siat api.

”Setelah ada aba-aba, kedua kelompok ini saling serang. Untuk jumlah pesertanya sekitar puluhan,” ungkapnya.

Namun, dalam siat api, Komang Sujana menegaskan, para peserta yang terlibat tak memiliki dendam atau emosi saat siat api berlangsung.

”Siat api ini juga sebagai pembelajaran bagaimana memadamkan api  atau ego dalam diri kita," jelasnya.

Masyarakat Desa Adat Duda sendiri memaknai tradisi ini sebagai upaya bersih-bersih.

Mereka percaya, melalui tradisi siat api tersebut, bisa menetralisir kekuatan negatif.

"Ini juga sebagai upaya pembersihan alam semesta untuk mengembalikan unsur alam yang ada di lingkungan desa adat Duda," terangnya.

Dengan demikian, alam kembali menemukan fitrahnya. Sehingga tercipta keseimbangan menjelang dilaksanakannya upacara Usaba Dalem.

"Siat api juga dimaknai sebagi ujian untuk mengendalikan emosi yang ada dalam jiwa manusia," ucapnya.***

Editor : Donny Tabelak
#sakral #tradisi #siat api #karangasem #desa adat duda