Radarbadung.jawapos.com– Perayaan Trisuci Waisak jatuh pada Minggu besok (31/5).
Dalam ajaran agama Buddha, hari ini diperingati sebagai momen agung di mana umat di seluruh dunia mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha, yang terjadi tepat pada hari Purnama di bulan Waisak.
Ketiga peristiwa tersebut adalah kelahiran Pangeran Siddhattha (tahun 623 Sebelum Masehi), pencapaian Pencerahan Sempurna pada usia 35 tahun (tahun 588 Sebelum Masehi), serta kemangkatan atau Mahaparinibbāna pada usia 80 tahun (tahun 543 Sebelum Masehi).
Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, ketiga momen tersebut menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi perjalanan batin manusia.
Tahun ini, perayaan mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”.
Tema ini sekaligus menandai peringatan 50 tahun berdirinya Sangha Theravada Indonesia.
Maknanya mengajak seluruh umat Buddha menyeimbangkan pengembangan kebijaksanaan batin dengan semangat kepedulian sosial.
Jalan Mulia yang diajarkan Sang Buddha merupakan pedoman hidup yang harus diamalkan dalam keseharian.
Hal ini disampaikan oleh Oscar Naib Wanouw, Ketua Majelis Agama Buddha Indonesia Provinsi Bali (MAGABUDHI), saat ditemui di Wihara Buddha Sakyamuni Denpasar, Jumat (29/5).
Ia menjelaskan bahwa pedoman tersebut tertuang dalam Dhammacakkappavattana Sutta, khotbah pertama yang disampaikan Sang Buddha setelah mencapai pencerahan.
“Di sana Beliau mengajarkan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai Jalan Tengah, yang menjauhkan manusia dari dua pola hidup ekstrem: yaitu mengejar kenikmatan indria secara berlebihan, dan menyiksa diri sendiri,” ungkapnya.
Dalam ajaran tersebut, Pandangan Benar mengajarkan manusia melihat kenyataan apa adanya dengan jernih, bukan berpegang teguh pada keyakinan yang kaku tanpa dasar.
Sementara itu, Perbuatan Benar membimbing seseorang untuk bersikap jujur, bermoral, dan bertanggung jawab. Ketika nilai-nilai ini tertanam kuat, maka akan tumbuh kedamaian batin dan karakter yang kokoh — melahirkan warga negara yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi luhur.
Lebih lanjut, tema perayaan ini juga mengajak setiap individu membangun kedamaian, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
“Keharmonisan berakar dari moralitas. Jika kita memiliki akhlak yang baik, maka kita bisa menjaga diri sekaligus melindungi orang lain. Ketika setiap individu baik, maka masyarakat pun akan damai. Di sinilah peran umat Buddha untuk turut serta merawat persatuan bangsa,” tambahnya.
Refleksi diri menjadi hal yang utama: menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai luhur, tidak melanggar norma kesusilaan, dan tidak memecah belah persatuan.
Hal ini selaras dengan pesan dalam Sigalovada Sutta, yang menekankan pentingnya tanggung jawab sosial — mulai dari lingkungan keluarga, persahabatan, hingga masyarakat luas.
Dalam ajaran tersebut ditegaskan bahwa keharmonisan sosial lahir dari pelaksanaan kewajiban secara saling menghormati dan beretika.
Hal ini sejalan dengan pesan Sang Buddha dalam Sedaka Sutta, bahwa siapa yang mampu menjaga dirinya dengan baik, sesungguhnya juga telah melindungi orang lain.
“Oleh karena itu, peringatan Trisuci Waisak tahun 2570 Tarunabhiksu ini menjadi panggilan bagi kita semua. Mari wujudkan ajaran luhur menjadi tindakan nyata, demi mewujudkan keharmonisan dan kejayaan bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.***