Radarbadung.jawapos.com– Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat dinilai belum mampu menggantikan peran manusia dalam industri perhotelan dan pariwisata Bali.
Bagi pelaku sektor kebersihan kamar (housekeeping), pelayanan yang mengedepankan keramahan dan pendekatan pribadi tetap menjadi keunggulan utama yang membuat Pulau Dewata diminati wisatawan.
Pandangan ini disampaikan dalam acara International Housekeeper's Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang digelar oleh Badan Pimpinan Daerah Indonesian Housekeepers Association (BPD IHKA) Bali, Sabtu (6/6) lalu di Prime Plaza Hotel Sanur. Mengusung tema “From Tradition to Transformation”, kegiatan ini menjadi wadah membahas peluang sekaligus tantangan penerapan teknologi AI dan sistem otomatisasi dalam pengelolaan layanan kebersihan di industri perhotelan.
Ketua BPD IHKA Bali, I Gede Cahaya Adi Putra, mengakui bahwa kemajuan teknologi adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Namun penerapannya di Bali harus tetap mempertimbangkan ciri khas pariwisata setempat yang sangat bergantung pada interaksi langsung dengan tamu.
“Teknologi dapat meringankan pekerjaan di bidang tertentu, misalnya pembersihan ruangan. Namun dalam hal memberikan pelayanan kepada tamu, AI atau robot tidak akan bisa menggantikannya sepenuhnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan, di Jepang sudah ada hotel yang sepenuhnya menggunakan sistem otomatis mulai dari penyambutan hingga proses pendaftaran tamu.
Namun konsep seperti itu dinilai belum cocok diterapkan secara penuh di Bali.
“Wisatawan datang ke sini bukan hanya mencari fasilitas, tetapi juga mengharapkan pengalaman layanan yang hangat dan akrab. Itulah nilai lebih yang kita miliki,” tegasnya.
Senada dengan itu, Dewan Pembina IHKA Bali sekaligus Ketua Harian Badan Pusat IHKA, Nyoman Sugiarta, menegaskan bahwa tenaga manusia tetap menjadi aset paling berharga.
Meski teknologi membantu meningkatkan efisiensi kerja, sentuhan tulus, perhatian pada hal-hal kecil, dan hubungan dekat dengan tamu adalah kelebihan yang sulit ditiru oleh mesin.
“AI berperan sebagai pendukung, bukan pengganti. Keramahan dan ketulusan dalam melayani adalah daya tarik utama pariwisata Bali yang harus terus dijaga,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, IHKA berharap para tenaga profesional bidang kebersihan kamar dapat menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan peningkatan keterampilan.
Keselarasan antara inovasi dan sikap profesional dianggap menjadi kunci agar pariwisata Bali tetap bersaing di tingkat internasional.
Apresiasi juga disampaikan Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau yang akrab disapa Cok Ace. Ia menyebut tenaga housekeeping berada di garda terdepan dalam menciptakan kesan nyaman bagi tamu selama menginap.
“Persaingan semakin ketat. Karena itu, peningkatan kemampuan, sertifikasi, dan sikap profesional mereka sangat penting untuk menjaga kualitas layanan Bali,” katanya.
Konferensi internasional ini diikuti sekitar 500 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia serta negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Selain sesi diskusi dan pameran peralatan, acara juga dimeriahkan dengan lomba merapikan tempat tidur yang diikuti oleh 34 perwakilan hotel dan 15 sekolah kejuruan perhotelan, termasuk peserta dari luar Bali dan Filipina.***
Editor : Donny Tabelak