Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Lestarikan Warisan Budaya, Puluhan Peserta Lukis Wayang Klasik di PKB ke-48

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 16 Juni 2026 | 19:20 WIB
Suasana Lomba Seni Lukis Wayang Klasik Bali dalam rangka Pekan Kebudayaan Bali ke-48 Tahun 2026 yang berlangsung di Art Centre Denpasar, Senin (15/6) kemarin. (Istimewa)
Suasana Lomba Seni Lukis Wayang Klasik Bali dalam rangka Pekan Kebudayaan Bali ke-48 Tahun 2026 yang berlangsung di Art Centre Denpasar, Senin (15/6) kemarin. (Istimewa)

Radarbadung.jawapos.com– Seni wayang klasik Bali kembali dihidupkan lewat goresan pena dan kuas dalam ajang Wimbakara atau Lomba Seni Lukis Wayang Klasik Bali pada Pekan Kebudayaan Bali (PKB) ke-48 Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di kawasan Taman Budaya Art Centre Denpasar, Senin (15/6).

Ajang ini menjadi wadah menjaga kelestarian warisan leluhur sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kreativitas sesuai perkembangan zaman.

Sebanyak 44 peserta dari berbagai kabupaten dan kota se-Bali mengikuti lomba tersebut.

Dalam waktu terbatas selama tiga jam, mereka harus menyelesaikan karya mulai dari pembuatan sketsa hingga proses pewarnaan secara utuh.

Tiga orang dewan juri, yakni Made Yasana, Made Rinu, dan Made Bendi Yudha, bertugas menilai karya dengan memperhatikan sejumlah aspek.

Penilaian meliputi ketepatan pakem atau aturan dasar wayang klasik, kesesuaian proporsi anatomi tokoh, komposisi gambar, teknik pewarnaan, hingga nilai keindahan karya secara keseluruhan.

Menurut Dewan Juri Made Yasana, dalam melestarikan seni lukis wayang klasik terdapat batasan dan kebebasan yang harus dipahami.

Bagian mendasar seperti bentuk mata, gelungan rambut, dan karakter tokoh tidak boleh diubah karena menjadi identitas utama dan akar dari kesenian tersebut.

Namun, peserta tetap diberi ruang untuk berkreasi pada unsur hiasan, ornamen pakaian, serta bagian dekoratif lainnya selama tidak menghilangkan ciri khas dasarnya.

“Yang menjadi akar dan pakemnya tidak boleh diubah. Sedangkan pada bagian pelengkap atau hiasan, masih boleh dikembangkan. Jadi antara aturan dasar dan kreativitas tetap bisa berjalan beriringan,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah karya tidak hanya dinilai dari ketepatan mengikuti pakem semata, tetapi juga dari keseimbangan, keharmonisan, dan keindahan secara keseluruhan.

Lebih lanjut, Yasana menyampaikan pandangan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan secara kaku dan membatasi perkembangan.

Menurutnya, seni tradisi akan tetap hidup jika terus berinovasi seiring zaman, bukan hanya sekadar meniru karya lama tanpa makna baru.

“Melestarikan bukan berarti mematikan kesempatan untuk berkembang. Jika seni ini hanya dipertahankan secara statis tanpa ada pengembangan, lama-kelamaan ia akan kehilangan napas kehidupannya dan hanya menjadi benda tiruan semata,” tegasnya.

Melalui ajang ini, diharapkan akan lahir regenerasi pelaku seni lukis wayang klasik yang terus bertambah jumlah dan kualitasnya, sehingga warisan budaya yang berharga ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.***

Editor : Donny Tabelak
#pesta kesenian bali #wayang klasik #seni #budaya #pkb