Perjuangan Yayun, Guru Agama Buddha di Pedalaman Balangan
Acep Tomi Rianto• Rabu, 1 Oktober 2025 | 22:52 WIB
Guru Agama Buddha, Yuyun saat mengajar siswanya di Pedalaman Balangan, Kalimantan Selatan.
Radarbadung.jawapos.com - Fajar baru saja menyingsing ketika jarum jam menunjuk pukul 05.00 WITA. Suara ayam berkokok bersahut-sahutan memecah keheningan Desa Oren, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Di rumah sederhana milik Yayun, kesibukan pagi mulai terasa. Istrinya menyiapkan bekal, sementara Yayun memanaskan motor tua yang akan menemaninya menempuh perjalanan panjang menuju sekolah.
Bukan sekadar rutinitas, perjalanan Yayun menuju Sekolah Dasar Kecil (SDK) Hambata penuh tantangan.
Jalan tanah yang belum beraspal kerap berubah licin dan berlumpur ketika hujan. Pun, tidak ada SPBU di sepanjang jalur, sehingga bahan bakar harus selalu dipastikan cukup.
Jarak 15 kilometer ditempuhnya lebih dari satu jam, dengan semangat dan kesabaran sebagai bekal utama.
“Semua harus dipersiapkan, dari fisik sampai kendaraan. Kalau tidak, bisa terjebak di tengah jalan,” kata Yayun, Jumat lalu (26/9/2025).
Sejak Juli 2023, Yayun resmi diangkat sebagai Guru PPPK. Baginya, tugas ini bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.
Ia mendidik lima siswa beragama Buddha di SDK Hambata—empat laki-laki dan satu perempuan—yang duduk di kelas lima dan enam.
Selain mengajarkan Pendidikan Agama Buddha, Yayun juga melatih kesenian dan lagu, berusaha menghadirkan suasana belajar yang hangat meski fasilitas terbatas.
“Kami berjuang mendidik siswa dengan penuh keikhlasan. Harapan saya, anak-anak di pedalaman bisa merasakan pendidikan yang sama seperti di kota,” ungkapnya.
Kepala SDK Hambata, Akhmad Baihaqi, mengakui peran Yayun sangat vital. Kehadiran guru agama Buddha memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai keyakinannya.
“Kami sangat bersyukur. Meski tantangan menuju sekolah berat, semangat para guru tetap besar. Bahkan saat musim hujan, ada guru yang harus berjalan kaki agar anak-anak tetap belajar,” jelasnya melalui sambungan telepon.
Bagi Yayun, setiap lumpur yang dilalui dan setiap tetes peluh yang jatuh adalah bagian dari pengabdian.
Ia percaya, pendidikan bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun moralitas, budi pekerti, dan kebijaksanaan.
Di pelosok Balangan, di tengah keterbatasan, Yayun menyalakan cahaya kecil yang berarti besar bagi masa depan anak-anak desa.***