Radarbadung.jawapos.com– Bagaimana imajinasi terbentuk dalam pikiran mereka yang tidak dapat melihat dunia secara visual?
Melalui film dokumenter berjudul Imaji, Yayasan Pendidikan Dria Raba berhasil menyentuh hati penonton sekaligus menunjukkan keteguhan dan kemandirian anak-anak penyandang disabilitas netra.
Film ini diluncurkan dalam sebuah pemutaran khusus yang digelar di Aula Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali, Sabtu (30/5) malam.
Sebelum film diputar, suasana hening menyelimuti ruangan.
Pembawa acara, Moch Satrio Welang, meminta seluruh penonton menutup mata mereka dengan kain hitam.
Penonton diajak merasakan suasana dunia tanpa penglihatan lewat alunan musikalisasi puisi yang dibawakan syahdu oleh anak-anak binaan Yayasan Pendidikan Dria Raba dan Teater Biner.
Tujuannya agar penonton lebih peka mendengar dan memahami perspektif yang disajikan dalam karya tersebut.
Penulis naskah, Tria Hikmah Fratiwi, menjelaskan bahwa ide awal film ini berangkat dari perbedaan makna istilah yang sering digunakan, yaitu “disabilitas” dan “difabel”.
Pemilihan kata ini ternyata mengandung makna yang berbeda dan berkaitan erat dengan pandangan masyarakat.
“Awal kata ‘dis’ bermakna keterbatasan, sedangkan ‘difabel’ merupakan singkatan dari different ability yang berarti memiliki kemampuan yang berbeda. Kami merangkai perbedaan ini menjadi benang merah cerita. Kami juga menggandeng para ahli agar informasi yang disampaikan akurat dan mendalam,” ujar Tria.
Sementara itu, Sutradara Imaji, Heri Windi Anggara, menambahkan bahwa inti cerita film ini ingin menjawab pertanyaan: jika orang yang dapat melihat langsung mengetahui bentuk benda dari penglihatannya, bagaimana cara mereka yang tidak dapat melihat membayangkan sesuatu?
“Teman-teman difabel netra memiliki cara pandang yang berbeda dan keunikan tersendiri dalam memahami dunia. Film ini bukan berfokus pada apa yang tidak bisa mereka lihat, melainkan bagaimana mereka membangun dunia yang kaya di dalam pikiran mereka,” tegas Heri.
Dari puluhan anak yang dibina yayasan, film ini memfokuskan perhatian pada sosok Lia, seorang anak yang memiliki bakat luar biasa dalam menulis puisi menggunakan huruf Braille.
Dalam proses pembuatannya, tim produksi mengikuti keseharian and pengalaman sejumlah anak difabel netra dari berbagai daerah.
Cerita dalam film dibangun langsung berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Untuk memperkaya isi karya, tim juga didampingi oleh psikolog dan dokter spesialis neurologi.
Kehadiran para ahli bertujuan menjelaskan secara ilmiah bagaimana otak manusia tetap mampu membentuk gambaran, mimpi, dan imajinasi meski tidak memiliki pengalaman visual.
Pihak Yayasan Pendidikan Dria Raba berharap film ini dapat membuka ruang dialog yang lebih luas di masyarakat.
Tujuannya mengubah pandangan yang selama ini sering memandang penyandang disabilitas hanya dari sisi kekurangan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya nilai inklusivitas.
“Di tengah budaya yang serba visual saat ini, Imaji mengingatkan kita bahwa ada banyak cara lain untuk mengenali dan memahami kehidupan. Melalui film ini, penonton tidak hanya diajak menonton dengan mata, tetapi juga belajar mendengar dan merasakan dengan hati. Sebab, terkadang ada sisi dunia yang luput dari pandangan justru karena kita terlalu bergantung pada penglihatan semata,” tutupnya.***
Editor : Donny Tabelak