Radarbadung.jawapos.com- Pembalap andalan Ducati Lenovo Team, Marc Marquez, membuat pernyataan yang menarik perhatian menjelang balapan utama (Race) MotoGP Indonesia 2025 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu hari ini.
Dengan nada realistis, juara dunia MotoGp 2025 ini mengungkapkan bahwa ia "menyerah" tidak memaksakan diri meraih podium.
Ia kini hanya memasang target finis di rentang posisi kelima hingga ketujuh.
"Hasil paling bagus adalah finis keempat, di depan Alex (Marquez) atau di belakang Alex. Tapi tanpa Acosta jatuh, harusnya kelima, keenam," kata Marc setelah Sprint MotoGP Indonesia, Sabtu (4/10/2025).
"Jadi untuk besok (Race), coba untuk bertarung untuk posisi kelima sampai ketujuh," kata Marc.
Keputusan ini datang setelah performa yang kurang maksimal dalam sesi latihan dan kualifikasi, serta hasil di Sprint Race.
Marc Marquez, yang dikenal dengan mentalitas juaranya yang tak kenal menyerah, kali ini memilih untuk bersikap pragmatis.
Setelah hanya mampu mengamankan posisi start kesembilan di balapan utama, dan finis ketujuh di Sprint Race (meski sempat diganjar penalti), The Baby Alien menyadari bahwa Sirkuit Mandalika bukan trek yang paling cocok dengan karakter motornya, Desmosedici GP25, dalam kondisi saat ini.
Ia secara spesifik menyebutkan bahwa target terbaiknya adalah finis di posisi keempat atau kelima, bahkan sampai ketujuh, dan akan berjuang melawan pembalap-pembalap seperti adiknya, Alex Marquez, serta rookie sensasional, Pedro Acosta.
Pernyataan Marquez menyoroti isu krusial pada setup motor Ducati GP25 di Mandalika.
Menurutnya, karakter lintasan yang licin membuat akselerasi murni tidak cukup, melainkan harus diimbangi dengan menjaga kecepatan di tikungan.
"Saya tidak bisa menggunakan akselerasi saja, karena di sini sangat licin. Kamu harus menjaga kecepatan di tikungan dan itu kelemahan di motor kami," jelasnya.
Masalah ini diperparah dengan insiden dua kali terjatuh cukup keras yang dialaminya pada hari Jumat, yang semakin memaksanya untuk tidak memaksakan motornya hingga batas maksimal.
"Kasusnya di sini berbeda. Ini terjadi di semua motor kami. Alex bisa finis keempat (pakai GP24). Saya tahu masalahnya, saya tahu bagaimana cara lebih cepat. Tapi saya tidak bisa mengerem lebih telat dan keras di sini, di mana normalnya itu kekuatan kami," kata Marc.
Ia mengakui bahwa kondisi tersebut menjadi strong point bagi pembalap lain yang memiliki gaya balap yang lebih mulus dan efektif di tikungan, seperti Fermin Aldeguer yang finis kedua di Sprint Race.
Hasil Sprint Race, di mana Marquez finis di posisi ketujuh setelah sempat terlibat insiden kontroversial dengan Alex Rins dan diganjar penalti penambahan waktu, menjadi indikasi jelas dari kesulitan yang ia hadapi.
Meskipun Sprint Race menunjukkan bahwa ia mampu bersaing di papan tengah, konsistensi selama 27 lap balapan utama pada hari Minggu, dengan kondisi ban yang berbeda, akan menjadi tantangan yang lebih besar.
Start dari posisi kesembilan akan menuntut Marquez untuk melakukan manuver agresif di awal balapan, namun ia tampak ingin menghindari risiko tinggi demi meraih poin maksimal di tengah keterbatasan performa.
Keputusan Marquez untuk membatasi targetnya menjadi hal yang logis demi mengamankan poin.
Jika ia mampu finis di posisi kelima (atau bahkan ketujuh), itu akan menjadi hasil yang cukup baik mengingat ia memulai dari urutan kesembilan.
Fokus Marquez saat ini adalah memaksimalkan potensi yang ada, menghindari kesalahan, dan memastikan ia tidak mengulang nasib buruk di Mandalika seperti tahun-tahun sebelumnya (gagal finis/absen karena cedera pada edisi sebelumnya).
Target posisi kelima menunjukkan bahwa ia tetap berambisi berada di garis terdepan, namun tidak akan mengambil risiko yang tidak perlu untuk mengejar podium dari pembalap yang jauh lebih kuat di sirkuit ini.***