Radarbadung.jawapos.com– Kisah pilu datang dari atlet angkat berat asal Buleleng, I Gede Wahyu Surya Wiguna.
Pemegang rekor dunia ini harus menelan pil pahit karena gagal tampil mempersembahkan medali bagi Indonesia di ajang kejuaraan dunia di Druskininkai, Lithuania.
Langkahnya terhenti bukan karena kemampuan fisik, melainkan urusan administrasi dan pendanaan.
Kekecewaan atlet yang berkompetisi di kelas 59 kilogram ini viral di media sosial.
Wahyu mengaku sudah menyumbang satu rekor dunia dan tiga rekor Asia, namun prestasi tersebut ternyata belum cukup mengantarnya kembali ke panggung internasional.
“Padahal tinggal selangkah lagi mimpi saya tercapai. Tapi itu belum cukup untuk kembali tampil. Langkah saya terhenti bukan karena lawan, melainkan persoalan administrasi dan kebijakan,” tulisnya dalam unggahan, Kamis (9/4).
Wahyu menyoroti alasan yang diberikan pihak terkait yang menyebutkan kebijakan ini demi menjaga kesiapan Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ia juga dianggap melanggar regulasi karena pernah bertanding di luar federasi.
Namun, hal ini dinilai tidak konsisten. Pasalnya, ada atlet lain yang dianggap taat aturan pun juga tidak diberangkatkan.
“Ini jadi tanda tanya besar, ada apa sebenarnya? Kalau sudah sesuai aturan, kenapa yang lain juga tidak berangkat?” tanyanya.
Selain soal kebijakan, Wahyu juga menyoroti kualitas pembinaan.
Ia menilai masih adanya penggunaan perlengkapan yang tidak sesuai standar International Powerlifting Federation (IPF) di level nasional.
Bahkan saat masa persiapan, fasilitas terbatas membuat peralatan harus dipakai bergantian.
“Kalau memang dana terbatas, seharusnya diprioritaskan ke nomor klasik yang lebih efisien, bukan memaksakan ekwip dengan biaya lebih besar,” tegasnya.
Yang menjadi ironi, keberangkatan Wahyu sejatinya tidak akan membebani anggaran pemerintah pusat.
Ia mengaku sudah siap berangkat menggunakan dana pribadi dan sponsor, asalkan mendapatkan surat rekomendasi resmi.
“Saya hanya butuh rekomendasi. Kalau soal dana, saya siap mandiri. Bahkan untuk tes doping, saya siap kapan saja,” ujarnya.
Saat ini, mimpi Wahyu untuk mengharumkan nama bangsa harus tertunda.
Ia berharap polemik ini menjadi bahan evaluasi serius agar sistem pembinaan olahraga di Indonesia bisa lebih baik ke depannya.
“Mari sama-sama berbenah untuk memajukan powerlifting Indonesia,” tutupnya.***
Editor : Donny Tabelak