Radarbadung.jawapos.com- Hujan deras yang mengguyur Bali selama dua hari terakhir memicu banjir di sejumlah titik di Denpasar dan sekitarnya.
Air merendam rumah, kendaraan, hingga fasilitas pendidikan, membuat aktivitas masyarakat terhenti sementara.
Beberapa pedagang dan restoran bahkan terpaksa menutup usaha untuk membersihkan sisa lumpur yang tertinggal.
Salah satu lokasi yang terdampak parah adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) 18 Sesetan yang terendam banjir pada Rabu kemarin (25/2).
Para siswa, guru, dan orang tua murid bekerja sama membersihkan lumpur yang mengendap di setiap ruang kelas.
Kepala sekolah, Anik Pudjiastuti, mengaku ini merupakan banjir paling tinggi sejak ia menjabat.
Ketinggian air mencapai permukaan meja siswa di dalam kelas.
"Semua ikut bersih-bersih, termasuk orang tua murid. Ini yang paling tinggi, air sampai ke meja siswa," ujarnya.
Meskipun pihak sekolah telah mengantisipasi dengan menaruh barang di tempat yang lebih tinggi, tingginya genangan luar dugaan membuat banyak perlengkapan tetap terendam.
Antara lain pakaian olahraga, alat olahraga, media pembelajaran, satu unit speaker aktif, hingga buku-buku perpustakaan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah dokumen dan arsip sekolah yang sebagian tidak dapat dibuat ulang.
"Banjir kecil biasanya hanya sampai halaman. Sepengetahuan saya, ini sudah tiga kali kejadian sebesar ini," katanya.
Banjir diduga disebabkan sungai yang meluap di sisi timur sekolah.
Meski demikian, aktivitas belajar direncanakan kembali normal pada hari ini (26/2) setelah proses pembersihan rampung berkat bantuan orang tua murid.
Warga Sanur Bertahan, Legian Siaga Semalaman
Di Jalan Bumi Ayu III, Sanur, banjir belum surut hingga kemarin.
Wayan Kecor, 65, warga yang telah tinggal selama 40 tahun di kawasan itu, mengaku belum pernah mengalami banjir separah ini.
Air masih setinggi lutut ketika ditemui, namun ia memilih bertahan di warung yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya.
"Istri dan anak saya sudah ke Sindhu sementara, saya jaga-jaga kalau air naik. Setiap tahun memang begini, sudah biasa. Walau banjir, saya tetap di sini," ujarnya pasrah.
Menurutnya, banjir terjadi akibat hujan deras yang turun tanpa henti dan sistem drainase yang kurang optimal.
Kawasan tempat tinggalnya juga merupakan daerah cekungan, sehingga genangan kerap bertahan lebih lama.
"Biasanya satu hari sudah surut, tapi yang terakhir ini lebih dari dua hari," tandasnya.
Sementara di Legian, tepatnya Jalan Sri Kresna Nomor 27, warga bernama Immanuel harus berjaga semalaman untuk menyelamatkan barang-barangnya.
Selama 11 tahun tinggal di sana, ini merupakan pengalaman pertama kali ia harus begadang hingga pagi.
"Tidak bisa tidur sampai pagi, selamatkan barang-barang supaya tidak terendam. Air mulai meluap sekitar pukul 01.00 dini hari dan baru surut benar-benar sekitar pukul 16.00 sore," katanya.
Barang berharganya berhasil diselamatkan, namun sepeda motornya terendam hingga ketinggian paha.***
Editor : Donny Tabelak