Dari Final Honda DBL 2025 di Badung, Pelatih Basket di Bali Buka Suara
I Wayan Widyantara• Selasa, 19 Agustus 2025 | 20:05 WIB
Suasana pertandingan di final DBL series Bali 2025, Sabtu lalu di GOR Purna Krida, Badung.
Radarbadung.jawapos.com– Final Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Bali menjadi ajang puncak yang mempertemukan dua kekuatan besar basket pelajar Denpasar, SMAN 1 Denpasar (Smansa) dan SMAN 2 Denpasar (Resman).
Laga penuh gengsi yang digelar Sabtu, 16 Agustus 2025 lalu di GOR Purna Krida, Badung, itu tak hanya menyajikan aksi sengit di lapangan.
Tapi, juga menjadi refleksi para pelatih atas dinamika pembinaan dan penyelenggaraan kompetisi.
Resman keluar sebagai juara di kategori putra setelah menumbangkan Smansa dengan skor 63-49.
Hasil ini mengakhiri dominasi Smansa yang sebelumnya dua musim berturut-turut menyabet gelar.
Pelatih Resman, Anton Purwo mengaku bangga dengan performa anak asuhnya meski menghadapi berbagai keterbatasan dalam persiapan.
”Persiapan kami sebenarnya tidak maksimal. Anak-anak baru ikut Kejurnas KU-16 dan KU-18, jadi waktu efektif untuk latihan hanya sekitar dua minggu sebelum DBL. Tapi kami manfaatkan waktu itu dengan baik,” kata Anton.
Ia menambahkan bahwa kunci sukses timnya terletak pada kekompakan dan pemahaman antar pemain yang telah bermain bersama sejak tahun sebelumnya.
”Strateginya lebih ke pemanfaatan kekuatan individu, karena mereka sudah paham karakter masing-masing. Itu yang membuat permainan mereka lebih efektif,” ujarnya.
Sementara itu, pelatih Smansa, Yudi Hartawan, mengakui timnya tampil kurang optimal akibat faktor non-teknis.
Ia menyebut absennya dua pemain inti karena panggilan tim nasional membuat komposisi tim berubah drastis di tengah perjalanan kompetisi.
" Sebenarnya rencana kami membawa 12 pemain, tapi dua dipanggil timnas saat momentumnya sudah dekat ke final. Jadi kami harus jeda, strategi diulang, dan itu berpengaruh kestabilan tim,” ungkap Yudi.
Meski gagal meraih gelar ketiga beruntun (three-peat), Yudi tetap mengapresiasi capaian anak-anak didiknya.
”Ini tahun keempat saya pegang tim. Dua tahun terakhir kami juara, dan tahun ini meski kalah di final, saya anggap pencapaian tetap luar biasa, apalagi ada pemain yang masih kelas satu," tambahnya.
Lebih dari sekadar hasil akhir, keduanya menyoroti pentingnya penyelarasan kalender DBL dengan agenda basket nasional, termasuk jadwal timnas dan turnamen resmi lain.
Baik Anton maupun Yudi sepakat bahwa jadwal yang terlalu padat dan mendadak menyulitkan pelatih dalam menyiapkan tim secara maksimal.
”DBL ini ajang yang paling ditunggu anak-anak SMA. Sayangnya, tahun ini penyelenggaraannya maju jauh dari biasanya. Dulu biasanya September atau Oktober, sekarang Agustus. Tidak semua tim siap,” ujar Yudi.
Anton juga menekankan pentingnya memperpanjang rangkaian kompetisi agar para pemain mendapat pengalaman bertanding lebih banyak.
”Kalau bisa seperti seri Jawa Timur atau Jakarta, yang bisa sampai dua-tiga bulan. Kasihan anak-anak kalau hanya sekali main dan kalah langsung gugur. Tim-tim besar juga butuh jam terbang,” katanya.
Keduanya berharap penyelenggara dapat mengevaluasi pola kompetisi tahun depan agar bisa memberikan ruang berkembang yang lebih luas bagi pelajar dan pelatih.
Meski diakui sebagai ajang prestisius, dinamika DBL kini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dengan kondisi pembinaan basket di Indonesia secara umum.
”Harapannya ke depan, DBL Bali bisa makin solid dari segi penyelenggaraan dan penjadwalan. Kalau mau kualitasnya meningkat, semua pihak harus dilibatkan dalam perencanaan, termasuk pelatih dan sekolah,” tutup Anton.***