Radarbadung.jawapos.com- Banjir bandang di Desa Banjar, Buleleng, mengakibatkan empat orang hilang.
Seorang diantaranya, Putu Wini Lestari, masih dinyatakan hilang. Bagaimana sosoknya?
Nama Putu Wini Lestari, 17, masih sering disebut di lingkungan SMAN 2 Banjar.
Di ruang guru, di ruang kelas, hingga di antara obrolan para siswa.
Siswa yang dikenal aktif dan disiplin itu hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang saat banjir bandang menerjang Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, pada Jumat (6/3) malam lalu.
Wini hilang saat berlindung di rumahnya di Banjar Dinas Ambengan, Desa Banjar.
Di sekolahnya, kenangan tentang Wini belum juga pudar. Rekan-rekan sekelas, guru, hingga keluarga masih menyimpan harapan agar ia segera ditemukan.
Komang Suciasih, Ketua OSIS masa bakti 2025, menjadi salah satu yang paling sering mengenang sosok Wini.
Tahun lalu, Wini dipercaya memegang tanggung jawab sebagai Bendahara Pengurus OSIS.
“Putu Wini sangat berdedikasi saat menjabat sebagai Bendahara Pengurus OSIS Tahun 2025. Dia sangat disiplin dan selalu bersemangat saat berkegiatan,” ujar Suciasih.
Di mata teman-temannya, Wini dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sekolah.
Ketika ada agenda OSIS atau kegiatan sekolah lainnya, namanya hampir selalu ada di daftar siswa yang terlibat.
Kenangan lain datang dari sepupunya, Ratna Ariantini.
Ia menjadi orang terakhir yang dihubungi Wini sebelum banjir bandang menerjang rumah mereka.
Saat itu, kata Ratna, Wini sempat menelepon meminta bantuan karena rumahnya mulai digenangi air. Namun, tak lama setelah percakapan itu, situasi berubah semakin buruk.
Tak berselang lama, sebuah pohon besar menghantam rumah Wini.
Setelah kejadian itu, komunikasi terputus. Wini tak lagi bisa dihubungi.
Yang tersisa hanya sebuah video pendek berdurasi 5 detik yang memperlihatkan Wini bersama sang ibu dan adiknya berusaha bertahan di dalam kamar.
Kala itu, banjir di dalam rumah sudah setinggi pinggang orang dewasa.
Beberapa saat kemudian, kabar buruk pun menyebar.
Wini dilaporkan hilang terseret arus. Bersama dirinya, ibu mereka Komang Suci, 44, dan sang adik Kadek Wahyu Gunawan, 12, juga ikut menjadi korban.
Kepala SMAN 2 Banjar, Made Mahendra Eka Purusa, mengatakan banjir bandang yang terjadi di Desa Banjar tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga berdampak pada sejumlah siswa sekolah tersebut.
Tercatat ada sepuluh siswa yang rumahnya terdampak banjir, termasuk Wini.
Menurut Mahendra, Wini dikenal sebagai siswa yang aktif dan mudah bergaul.
Selain aktif di OSIS sebagai bendahara, ia juga dikenal disiplin oleh guru maupun teman-temannya.
Kabar hilangnya Wini, kata Mahendra, menjadi pukulan bagi keluarga besar sekolah.
Apalagi saat ini Wini sebenarnya sedang menjalani ujian praktik menjelang kelulusan.
“Wini sedang menempuh ujian praktik. Mestinya dua bulan lagi sudah kelulusan. Ini sangat mengejutkan bagi kami,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan moral, pihak sekolah bersama para siswa dan guru menggelar doa bersama agar Wini segera ditemukan.
Di saat yang sama, sekolah juga menggalang donasi untuk membantu para siswa yang terdampak banjir.
Hasilnya cukup besar. Dalam waktu sekitar dua jam, donasi yang terkumpul dari siswa, guru, dan pegawai sekolah mencapai Rp13,6 juta.
Tidak berhenti di situ. Beberapa hari terakhir, berbagai aksi kemanusiaan juga dilakukan.
Pada Sabtu (7/3), sekolah menggelar kegiatan bakti sosial.
Sehari setelahnya, Minggu (8/3), para guru dan siswa turun langsung melakukan kerja bakti membersihkan rumah para siswa yang terdampak banjir dan dipenuhi lumpur.
Mahendra menambahkan, sepupu Wini, Ratna Ariantini, juga termasuk korban terdampak karena rumahnya roboh akibat banjir bandang. Hingga kini pihak sekolah masih terus memberikan pendampingan.***
Editor : Donny Tabelak